Sunday, November 29, 2009

Emak 'yang juga' Ingin Naik Haji


Mungkin tidak terlalu mirip skenario "Emak Ingin Naik Haji" nya Mbak Asma Nadia, Tetapi Emak yang satu ini sungguh ada di dunia nyata. Berumur 63 tahunan, janda, petani, biasa dengan kostum kebaya dan kain panjang dilengkapi kerudung kecil sebahu. Mak Nji menghabiskan sepanjang umur hidupnya di tempat kelahirannya sebuah desa terpencil di kabupaten Lamongan. Adalah teman sekamar, satu rombongan KBIH dalam ibadah haji tahun 2007 yang lalu.
Mak Nji dan seluruh rombongan kami tiba di kota Mekkah dalam suasana yang haru biru.... dalam gema kalimat talbiyah yang tiada henti-hentinya. Dalam persiapan pondokan dan pembagian kamar, Mak Nji, My Roommate, baru menyadari kalau tas tentengnya tidak ditemukan dalam tumpukan barang milik rombongan. Padahal disitulah pakaian gantinya untuk umroh malam itu. Meski kemudian ketua rombongan melapor kepada ketua kloter, tentu masih butuh waktu untuk melacak keberadaan barang itu yang mungkin saja terbawa oleh rombongan atau kloter lain.
"Bu Bidan....." Mak Nji memulai pembicaraan. Mungkin karena saya perempuan muda dan lebih pantas menjadi Bidan maka beliau sering salah memanggil 'Bu Dokter' mejadi 'Bu Bidan'
"Saya mau nempil (Beli) bajunya sampeyan yang itu, pake uang Indonesia berapa harganya ?"
Saya mengamati baju jubah putih yang meskipun masih tergolong baru tetapi kan sudah dua atau tiga kali saya pakai. Memang saya sengaja membawa beberapa potong baju berwarna putih bersih untuk ibadah haji ini.
Akhirnya dengan paksaan dari Mak Nji, karena saya tidak enak hati menjual baju bekas pakai, jubah putih itupun beralih tangan dan beliaupun berumroh dengannya.
Mak Nji berasal dari desa yang sama dengan ketua rombongan sekaligus pembimbing ibadah dari KBIH kami, Ustadz Mun.
"Saya itu sudah pasrah sama Ustadz Mun...." Suatu hari dalam kamar pondokan kami.
"Saya sudah ndaftar satu tahun sebelumnya untuk dapat kursi, saya jual sawah saya sepetak.Trus pas mau pelunasan kemarin ini saya terkena musibah, hampir-hampir saya tidak jadi berangkat..." Mak Nji tercenung dan menerawang.
"Anak saya perempuan satu-satunya ditinggalkan oleh suaminya begitu saja dengan menanggung beban hutang yang cukup banyak. Anak saya kemudian harus pergi ke Malaysia bekerja keras di sana untuk kehidupan kami, sebab sawah saya sudah terjual untuk biaya haji ini. Cucu saya dua orang, saya yang merawat dan memenuhi kebutuhan mereka sebisa saya. Jadi saya bilang ke Ustadz Mun terserah bagaimana saya ini supaya tetap bisa naik haji. Umur saya sudah tua, barangkali ini kesempatan terakhir saya"
"Lantas bagaimana kata Ustadz Mun..?" saya ingin tahu juga
"Beliau bilang sudah yang penting sampeyan berangkat, nanti soal di Mekkah ikut apa kata saya saja. Jadi saya ini sekarang ngawulo saja sama Ustadz. Uang riyal saya (kembalian dari pemerintah untuk Living Cost) nanti saya bawa pulang lagi untuk bayar-bayar keperluan cucu."
Jadi demikianlah Mak Nji setiap hari memasak makanan untuk Ustadz Mun, mencucikan baju beliau dan membantu apa saja keperluan ustadz.
Ketika jama'ah lain ada yang sibuk mengumpulkan puluhan jerigen air zam-zam kemudian dikirim ke Indonesia lewat jasa pengiriman dengan harga yang aduhai mahalnya (kalau dihitung-hitung harga per jerigennya sama dengan kalau beli di pusat oleh-oleh haji di Indonesia), maka Mak Nji pun sibuk mengumpulkan juga. Setiap hari bila pergi ke Masjidil Haram, beliau membawa plastik untuk menampung air zam-zam dari keran-keran yang tersedia kemudian digendongnya pulang dengan tas punggung souvenir kartu perdana GSM Arab Saudi pemberian dari teman se jama'ah. Air itu dikumpulkan sedikit demi sedikit dalam 2 jerigen besar dalam tas kopernya.
"Ah, tas koper saya penuhi air zam-zam saja. Ini akan menjadi oleh-oleh saya yang paling berharga."
Ketika jama'ah lain, terutama para ibu, berbelanja apa saja untuk oleh-oleh (kadang-kadang saya pikir jangan-jangan oleh-oleh sajadah itu di Pasar Turi Surabaya juga banyak), Mak Nji hanya menanyakan harga-harganya. Beberapa kali beliau titip sesuatu bila saya bersama suami sedang keluar maktab.
"Saya titip boneka unta yang seperti punya bu Kas kemarin, satu saja buat cucu saya yang kecil."
Besoknya lagi Mak Nji sudah punya bermacam oleh-oleh. Ada tasbih, teko warna emas, sajadah, dll. Itu adalah pemberian para jama'ah lain, karena biasanya dengan beli banyak harganya bisa murah jadi tidak sayang membaginya satu buat Mak Nji, mungkin karena beliau sering bertanya dengan mupeng (muka pengen).
Kaget juga suatu hari ketika saya bercerita tentang pembantu saya yang minta naik gaji padahal gajinya sudah 500rb sebulan, Mak Nji dengan yakin dan seriusnya mengatakan "Kulo mawon tak nderek sampeyan, nggih" (Saya saja yang ikut anda ya) Duh Mak Nji, harus berapa saya menggaji untuk pembantu bertitel Hajjah?
Dan begitulah Mak Nji ketika pulang ke tanah air dari bandara Madinah, wajah beliau sumringah. Tas koper yang berat penuh dengan air zam-zam, tas tenteng yang penuh dengan pakaian dan perlengkapan, dan sebuah gendongan (betul-betul kain gendong) untuk menggendong oleh-olehnya seperti seorang bakul jamu. Dan ajaibnya tidak terkena razia petugas bandara untuk memasukkan kelebihan barang tentengan ke bagasi, padahal banyak dari kami yang terpaksa melakukannya dengan resiko barang yang hilang atau rusak. Subhanallah

No comments:

Post a Comment

LOGO IDI

LOGO IDI

LOGO PEMDA GRESIK

LOGO PEMDA GRESIK