Friday, September 7, 2012

Peduli Tikus

Kisah ini saya sampaikan dalam rapat staf di dua instansi yang pernah saya pimpin. Selengkapnya beginilah kisahnya:

Di sebuah tanah pertanian tinggallah keluarga petani yang memiliki beberapa hewan ternak. Dalam rumah pak tani tinggal juga seekor tikus. Suatu hari Pak Tani merencanakan akan mengusir tikus itu. Demi mendengar rencana Pak Tani, si tikus pun panik dan berlari mencari pertolongan.

Datanglah si Tikus menemui Ayam.
"Wahai Ayam, tolonglah aku! Pak Tani akan membeli perangkap tikus untuk menangkapku. Apa yang harus aku lakukan?"
Ayam menjawab dengan ogah-ogahan.
"Hai Tikus, yang mau ditangkap kan kamu, tidak ada urusannya dengan aku."

Tikus pun berlari lagi menuju kandang kambing.
"Oh Kambing, Pak Tani akan membeli perangkap tikus untuk menangkapku. Bisakah engkau menolongku? Aku sangat ketakutan." kata Tikus berurai air mata.
"Mbeeek... makanya jadilah kamu binatang yang baik seperti aku. Lihat aku dipelihara baik-baik dan selalu diberi makan cukup, jadi buat aku harus menolongmu?" kata Kambing kemudian.

Harapan terakhir si Tikus hanyalah pada si Sapi. Di kandangnya si Sapi sedang menikmati rumput hijaunya.
"Sapi sahabatku, engkaulah harapanku. Pak Tani akan menangkapku dengan perangkap barunya, tolonglah aku wahai sahabatku."
Sapi menghentikan makannya sejenak, tapi kemudian acuh kembali.
"Hai Tikus, Apa alasannya aku harus menolongmu, itu adalah resiko yang harus kamu tanggung sendiri. Hidupku di sini sudah cukup tentram."

Singkat cerita, waktu itu pun tiba. Pak Tani pulang membawa perangkap tikus dan memasangnya. Suatu malam ketika Tikus terjebak dan ekornya terjepit di perangkap, ia menjadi sangat panik dan ketakutan. Ia berlarian kesana kemari dan menabrak segala sesuatu yang dilewatinya. Sampai-sampai lampu teplok di dinding pun jatuh dan secepat kilat kemudian membakar dinding rumah. Api pun membesar cepat, Pak Tani dan istrinya terkejut dan berlari keluar rumah. Dalam sekejap saja rumah kayu Pak Tani beserta harta bendanya ludes dimakan api.

Akibat musibah itu, Pak Tani belum bisa bekerja kembali. Untuk makan esok harinya, Pak Tani dan istrinya menyembelih si Ayam untuk dijadikan lauk.

Karena kesedihan yang berlarut-larut, istri Pak Tani pun sakit keras. Terpaksa Pak Tani pun menjual si Kambing kepada penjual sate untuk berobat istrinya kesana kemari.

Tetapi penyakit sang istri justru makin parah dan akhirnya ia pun meninggal dunia. Karena Pak Tani harus mengadakan selamatan kematian istrinya, maka disembelihlah si Sapi.

Begitulah akhirnya. Ayam, Kambing, dan Sapi pun terkena imbasnya.

DALAM PELAYANAN KESEHATAN

Kisah di atas menunjukkan bahwa bila kita tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kita, maka sesungguhnya tinggal menunggu waktu saja kita akan terkena dampak dari apa yang tidak kita pedulikan. Semua akan kembali kepada diri kita sendiri.

Sebagai contoh dalam bidang pelayanan kesehatan. Bila kita melakukan tugas dengan asal-asalan dan tidak mempedulikan kebutuhan dan keadaan pasien, dengan kualitas pekerjaan yang seadanya saja, sepintas hal itu meng'enak'kan. Dan sepintas hal itu tidak memberikan dampak apapun pada kita. Toh kita sudah bekerja dan mendapatkan gaji cukup.

Tapi seandainya keluarga kita atau kita sendiri suatu saat berada di suatu tempat dan membutuhkan pelayanan kesehatan dalam keadaan darurat, sementara kemudian yang kita temui adalah fasilitas kesehatan dan petugas yang bekerja asal-asalan dan tidak peduli, maka itulah sesungguhnya dampak sistem yang di dalamnya kita ikut menciptakannya sendiri. Kita bekerja asal-asalan di sini, dan keluarga kita di sana menerima pula akibat dari pelayanan kesehatan yang bekerja asal-asalan.

Maka yang dibutuhkan di sini adalah sebuah kepedulian!

DALAM PERUSAHAAN/ORGANISASI

Seorang pegawai rendahan yang bertugas menerima barang dari supplier perusahaan misalnya, ia menerima fee (alias suap) dari supplier untuk memanipulasi angka timbangan dari barang yang diterima supaya supplier mendapatkan untung dari pembayaran perusahaan. Sepintas si pegawai dan si supplier sangat enak dan beruntung. Namun ketidakpedullian terhadap perusahaan dan keuntungan sesaat itu hanyalah menunggu waktu.

Akibat kecurangan-kecurangan yang terus terjadi, perusahaan pun  mengalami defisit dan berada di ambang kebangkrutan. Perusahaan tidak bisa lagi membeli barang dari si Supplier (dan supplier pun kehilangan pendapatannya)  dan ujung-ujungnya harus terjadi rasionalisasi sehingga si pegawai itupun harus kehilangan pekerjaannya.

Maka yang dibutuhkan adalah sebuah kepedulian!!

DALAM PEMERINTAHAN/NEGARA

Fenomena korupsi dan memperkaya diri sendiri, sesungguhnya adalah sebuah bentuk ketidakpedulian juga. Sesaat sepertinya menguntungkan, akan tetapi pelan-pelan justru akan menghancurkan bangunan negara dan ujung-ujungnya masa depan yang sulit baginya dan semua orang.

Kolusi dan Nepotisme? Dalam penerimaan pegawai misalnya, sesaat sepertinya menguntungkan diri sendiri dengan menggunakan kewenangan untuk mengangkat pegawai dari keluarga atau anak pejabat atau siapapun yang sanggup membayar mahal tanpa mempedulikan kapabilitas.

Dampaknya adalah, dengan kualitas dan kapabilitas pegawai yang rendah justru akan jadi bumerang. Pejabat yang mengangkat akan sibuk menangkis kanan kiri bila terjadi kinerja bawahan yang buruk. Bagaimana jika suatu waktu kita, anak kita, atau keluarga kita menerima pelayanan yang buruk atau menerima ketidakadilan perlakuan hanya karena bukan anak siapa-siapa atau punya apa-apa? Itulah bagian dari sistem yang mungkin kita ikut menciptakannya.

Sekali lagi hanyalah kepedulian yang diperlukan!!!

DALAM MASYARAKAT

Kalau kita berada pada lingkungan yang nyaman, rumah mewah di kawasan elit, pengamanan 24 jam, sementara 500 meter di luar pagar kita adalah masyarakat sederhana yang kumuh dan kampungan, apakah kita tidak terkena dampaknya?

Bila masyarakat kaya tidak peduli dengan kemiskinan yang mengitarinya, sesungguhnya tinggal menunggu waktu saja ketika kemiskinan yang berlarut itu berubah menjadi kelaparan yang mengkristal  menjadi kriminalitas. Bagaimana dengan perampok, pencuri, dan orang kampung yang kelaparan melompat pagar dan menjarah di kediaman orang-orang kaya? Bagaimana dengan anak-anak terlantar yang tidak berkesempatan  mengenyam pendidikan layak kemudian membentuk geng-geng yang berkelahi satu sama lain di lingkungannya? Maka masyarakat yang ingin nyaman dan aman itu berubah menjadi masyarakat paranoid yang senantiasa ketakutan.

Maka inti sebenarnya adalah SEBUAH KEPEDULIAN!!!!

No comments:

Post a Comment

LOGO IDI

LOGO IDI

LOGO PEMDA GRESIK

LOGO PEMDA GRESIK