Monday, October 24, 2011

Catatan Haji: Sepulang Haji .... Lantas Apa?

Usai wukuf di Arofah biasanya jamaah akan dilanda kerinduan yang luar biasa terhadap keluarga dan tidak sabar ingin segera pulang. Sepulang dari haji lantas apa?

Nasihat Pak Kyai

Luar biasa nasihat KH. Najih Ahjad sebagai pengasuh Jama'ah Maskumambang yang kami ikuti. Ketika berangkat pesan beliau untuk saling menolong, yang kuat menolong yang lemah, yang muda membantu jama'ah yang tua karena dengan demikian insya Allah akan diberikan kemudahan oleh Allah dalam setiap langkah ibadah, sungguh memacu semangat berbagi dan kekompakan jama'ah.

Ketika ada yang harus naik kursi roda, jama'ah bergantian mendorong. Ketika ada yang sakit, jama'ah saling membantu dan mendo'akan. Ketika ada yang tersesat, ketika harus ada yang opname, ketika harus ada yang tertinggal di Mekkah, semua menjadi bagian layaknya sebuah keluarga.

Nah saat kepulangan haji, tak terlewatkan pula nasehat beliau menyambut kami.

"Bapak dan Ibu, saya ucapkan selamat atas kepulangan bapak ibu dengan selamat atas perlindungan dari Allah SWT. Nilai-nilai haji hendaknya diteruskan dengan amalan sosial di masyarakat agar menjadi haji yang mabrur.

Yang perlu diingat oleh bapak terutama para ibu, ketika sudah pulang ke rumah, berkumpul kembali dengan keluarga dan disambut para tamu, saya mengingatkan hal yang sangat penting.

Apa yang terjadi selama haji, yang dialami tetangga atau teman jama'ah lain disana, yang sekiranya tidak mengenakkan tidak perlu diceritakan kepada para tamu. Karena akan merusak hubungan jama'ah dan timbul hal-hal yang tidak baik di masyarakat. Ceritakan saja hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman-pengalaman ibadah, supaya para tamu mempunyai motivasi kuat untuk mengikuti jejak bapak dan ibu sekalian. "

Cerita-cerita Haji

Tepat seperti apa yang dikhawatirkan oleh Pak Kyai, sesungguhnya hal-hal semacam itu seringkali terjadi ketika seseorang baru pulang haji dan menemui para tamu. Terutama bila hajinya bersama tetangga, teman, atau keluarga.

"Oh, Pak Otong jadi ketua regu saya disana kerjaannya hanya mengurus istrinya. Tahu kan bu, istrinya sakit-sakitan. Nggak tahu tuh hajinya gimana, wong banyak yang diwakilkan nggak dilakukan sendiri...."
Cerita yang menggetirkan hati saya dalam sebuah episode saya menjadi tamu.

Atau semacam ini ; " Wah, bu Deni dan pak Deni disana kerjaannya bertengkar melulu. Berangkat ke masjid sendiri-sendiri, untung bapaknya ikut mengawal pak Deni kalau ke masjid, orang sudah tua dan sakit-sakitan gitu."

Tapi ada juga cerita-cerita yang membuat saya melongo dan tersenyum, ketika seorang ibu tua yang polos menceritakan bagaimana sih ibadah haji disana itu?

"Oalah jeng, budhal kaji niku kados dolanan. Mangke muter-muter, trus diken mlayu-mlayu, trus diken ngantem watu... kados dolanane bocah cilik meniko lo..."
(Oalah, naik haji itu seperti main-main. Nanti berputar-putar, lantas disuruh lari-lari, terus disuruh melempari batu... kayak mainannya anak kecil gitu lo ..)

Atau gaya seorang ibu yang funky ...

"Sudahlah bu, enak kok naik haji itu. Saya jalan-jalan terus. Banyak barang-barang bagus dan murah. Wis, ndak mikir yang di rumah, anggap saja kayak pelesir"

Titel Haji

Sepulang haji .. lantas apa? Titel Haji atau Hajjah ?

Soal titel haji ini saya teringat cerita masa kecil saya. Seorang tetangga pedagang kelontong saya biasa memanggil beliau Mbah Rum, bahkan sejak saya lahir... hehe...
Suatu kali beliau pulang haji, dan ibu meminta saya membeli sesuatu di toko kelontong Mbah Rum.

"Mbah Rum, tumbas minyak goreng seperempat" kata saya polos seperti biasanya. Tidak kusangka Mbah Rum marah-marah sambil mengambil uang di tangan saya dengan kasar.

"Mbah Rum ... Mbah Rum.... panggilnya Mbah Ji gitu lo !!" (Mbah Ji = Mbah Kaji = Mbah Haji/Hajjah)

Saya kecil pun kaget dan hampir menangis akibat tidak tahu kesalahan saya. Saya tidak mengerti mengapa saya disuruh memanggil beliau dengan nama lain? Akhirnya dengan takut-takut saya memanggil beliau dengan... "Inggih, Mbah Ji Mbah Rum..."

Sepulang haji ada yang memilih biasa saja, tidak serta-merta lantas mencantumkan labeh 'H' atau 'Hj' di depan semua nama yang ditulis. Kalaupun tercantum, biasanya orang lain yang menyematkan sebagai bentuk penghargaan.

Soal itu pernah suatu kali saya tolah-toleh kebingungan ketika seorang ibu tetangga menyapa dengan "Monggo Ning Kaji" dan beberapa menit kemudian baru tersadar kalau yang dimaksud adalah saya. Oh, malunya.

Tapi ada juga yang memilih titel Haji atau Hajjah sebagai sebuah keharusan. Bahkan bisa timbul kemarahan bila orang lain tidak menyapanya sebagai Pak Haji atau Bu Hajjah. Termasuk di dalamnya identitas kopyah putih, baju koko, dan sarung.

Bahkan saat kecil saya pernah mengira haram seorang yang belum haji memakai kopyah haji yang berwarna putih itu. OMG.

Apapun pilihan, soal hati hanya Allah yang tahu. Semoga tidak termasuk dalam kategori riya' dan berbangga-bangga.

Selamat Menunaikan Ibadah Haji, dan pulang sebagai Haji Yang Mabrur!

No comments:

Post a Comment

LOGO IDI

LOGO IDI

LOGO PEMDA GRESIK

LOGO PEMDA GRESIK