Wednesday, November 23, 2011

Catatan Haji: Laa Jidaala... Laa Jidaala....

Soal haji selain dibutuhkan fisik yang kuat, ilmu, juga kesabaran ekstra. Soal kesabaran ini jauh-jauh hari dalam setiap sesi manasik haji pembimbing memberi pesan soal Surah Al Baqarah ayat 197

"..... fa man fadhara fiihinnal haj, fa Laa Rafatsa wa Laa Fusuuqa wa Laa Jidaala fil haj.........Maka barang siapa menetapkan niatnya pada bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh Rafats, berbuat Fasiq, dan Berbantah-Bantahan dalam masa mengerjakan haji......... "

Mengapa pada tiga hal itu Allah perlu menyebutnya dalam Al Qur'an? Karena sungguh pada masa haji ketiga hal tersebut yang paling banyak kemungkinan dialami para jama'ah. Dan tentu saja paling banyak membutuhkan kesabaran.

Rafats berhubungan dengan pengendalian nafsu. Ketika berhaji membutuhkan waktu lama, dalam keadaan ihram tidak boleh 'mendekati' istri/suami, sementara ketika prosesi thawaf, sa'i dan lain-lain banyak berdesak-desakan antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim.

Contoh Fasiq? Wow jangan ditanya lagi, kemungkinan itu sangat banyak. Ketika terjadi pelanggaran terhadap syariat disanalah perbuatan fasiq. Mencuri barang-barang jama'ah lain, menyakiti fisik maupun psikis, bahkan pernah terjadi sebuah kasus pembunuhan.

Belum lagi soal kiswah (penutup Ka'bah) yang sobek-sobek untuk diambil berkahnya (?), mengusap-usap tiang tertentu yang dipercaya mengandung keberkahan, sampai ritual-ritual diluar syariat haji yang dilakukan oleh jama'ah.

Nah kalau soal Berbantah-Bantahan (Jidaal) ini paling banyak membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Mulai dari kamar hotel, menunggu bis, antrian di lift dan toilet sampai soal makanan. Bersentuhan dengan budaya negara lain sampai soal pelayanan dan kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan haji.

Kalau ada yang menyerobot antrian, tidak perlu berbantah-bantahan, cukup lebih bersabar.
Kalau ada kebiasaan orang lain yang mengganggu, tidak perlu berbantah-bantahan, bertahanlah dengan kesabaran.
Kalau ada ransum makanan yang terlambat, tidak perlu berbantah-bantahan, buka saja sedikit bekal sebagai syarat mengisi perut.
Kalau ada jalanan menuju masjid yang macet akibat saling serobot, tidak perlu berbantah-bantahan siapa yang salah, mencari solusi lain mungkin akan jauh lebih mudah.
Dan sebagainya .... dan sebagainya....

Maka ketika rombongan kami dan banyak rombongan lain yang belum terangkut dari Muzdalifah menuju Mina hingga berjam-jam setelah Shubuh, kami memilih membuat tenda darurat dan tempat duduk darurat dari potongan kardus, tikar, atau terpal plastik yang kebetulan kami temukan untuk istirahat terutama bagi para jama'ah tua.

Ketika terdengar berita dari loudspeaker tentang kedatangan bis, kami dan beberapa rombongan lain berduyun-duyun datang ke tempat pemberhentian, tapi sejurus kemudian ternyata si bis batal datang. Istirahat pun dilanjutkan.

Beberapa menit kemudian terdengar kembali berita kalau bis yang akan mengangkut ada di sisi lain, kami pun mencoba datang meski akhirnya batal lagi karena ternyata bis itu untuk rombongan yang lain. Sampai ketua rombongan memutuskan beberapa orang saja yang mengkonfirmasi kepastian ke panitia, baru rombongan besar akan mengikuti.

Saat itulah terdengar kericuhan kalau tidak bisa dibilang pertengkaran alias berbantah-bantahan.

Seorang bapak, yang nampaknya ketua rombongan dari kloter lain, menuding-nuding marah pada sesosok panitia yang menenteng loudspeaker.

 "Laa Jidaala... Laa Jidaala.... kalau udah begini kita disuruh Laa Jidaala... padahal pelayanan jelek seperti ini. Itu kan hak kami, kalau begini namanya kita dizhalimi ...... "

Penjelasan panitia yang nampak sebenarnya juga dalam keadaan panik dan bingung tidak juga memuaskan si bapak.

Seorang jama'ah lain datang bermaksud menenangkan si bapak.
"Pak .. ingat pak... Laa Jidaala..."

"Ahhhh.... La Jidaala... La Jidaala..... "

Dan .... makin muntab lah si bapak. Hehehe.....

No comments:

Post a Comment

LOGO IDI

LOGO IDI

LOGO PEMDA GRESIK

LOGO PEMDA GRESIK